Tingkat Partisipasi Turun, Bawaslu Bogor Cari Penyebab di Forum Stakeholder

Kota Bogor, Vibeindonesia.id – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Bogor menggelar sosialisasi evaluasi tingkat partisipasi masyarakat di Pemilihan 2024. Mereka mengandeng stakeholder untuk membahas hal itu di Mirah Hotel, Jumat (13/12/2024).

Komisioner Bawaslu Kota Bogor, Salman Alfarisi mengatakan kegiatan ini untuk mendengar dan menggali lebih dalam turunnya tingkat partisipasi masyarakat di Pilkada 2024 kemarin. Mereka mengundang pengawascam, KPU, desk Pilkada sampai pimpinan media untuk membahas hal tersebut.

Angka partisipasi pemilih saat Pilkada kemarin sendiri yaitu 63 persen ini berbanding jauh dengan target KPU yaitu 80 persen keatas. Begitu pun berbeda dengan angka partisipasi Pemilu Februari yang mencapai angka 80 persen.

“Kami ingin mendengar penilaian-penilaian dari stakeholder dalam melihat Pilkada kemarin. Apa yang kemudian menjadi penyebab turunnya angka partisipasi masyarakat,” katanya.

Dia menjelaskan ada banyak hal yang membuat partisipasi masyarakat menurun. Dugaan sementara banyak pemilih khususnya pemula yang belum sepenuhnya paham kapan waktu untuk memilih serta apa yang harus mereka bawa saat memilih.

“Pemilih pemula tidak begitu paham jam pencoblosan dari kapan sampai kapan. Lalu kalau datang apakah harus pakai undangan atau tidak, kalau tidak apakah bisa mencoblos. Salah satu hal ini perlu dievaluasi nantinya,” jelasnya.

Bawaslu sendiri, kata Salman, belum bisa mengambil kesimpulan terkait penyebab turunnya angka partisipasi masyarakat. Sehingga mereka terus menghimpun pendapat berbagai pihak salah satunya lewat forum ini.

“Kita sendiri tidak begitu mengikuti kegiatan sosialisasi KPU sehingga tidak bisa menyalahkan langsung bila angka partisipasi menurun,” ujarnya.

Dia menginginkan pendapat-pendapat yang masuk ke Bawaslu bisa menjadi bahan pembelajaran untuk kegiatan Pilkada ke depan. Terlebih ini terjadi secara nasional sehingga perlu dievaluasi agar tak terulang kembali.

“Kita tidak tahu apa yang sebenernya terjadi karena Pilkada lalu kan sudah hari libur tapi tetap saja sedikit. Ini bisa menjadi pertanyaan nanti apakah tingkat partisipasi rendah ini membuat legitimasi calon terpilih tetap kuat atau tidak,” bebernya.

Apalagi bila melihat tingkat laporan masyarakat terkait Pilkada tinggi ke Bawaslu. Masyarakat seakan benar-benar menjadi bagian dari Pilkada namun saat pencoblosan justru angka partisipasi rendah dibanding Pilpres.

“Apakah ini karena masyarakat yang memang tidak mau mencoblos atau karena tarikan untuk mereka datang ke TPS itu yang kurang. Ini semua tentu perlu kita dalami terus untuk bahan evaluasi,” katanya.

(D2N)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *