Petani Boyolali Meraih Kemakmuran dengan SRP: Efisiensi, Produktivitas, dan Lingkungan Sehat

Poktan Kridomulyo saat melakukan pengamatan dan pengukuran SRP dalam ajang sekolah lapangan pada Selasa, 7 Oktober 2025. (Foto : D2N)

Boyolali, Vibeindonesia.id – Program Sustainable Rice Platform (SRP) terus digencarkan di Kabupaten Boyolali. Melalui kegiatan Demonstration Plot (Demplot) atau lahan percontohan, Rikolto bersama Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) dan Aliansi Petani Padi Organik Boyolali (APPOLI) menggelar Sekolah Lapangan bersama Kelompok Tani (Poktan) Kridomulyo di Desa Pojok, Kecamatan Nogosari, Selasa (7/10).

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya kolaboratif untuk mewujudkan sistem pertanian padi yang ramah lingkungan, efisien, dan berkelanjutan.

Bacaan Lainnya
Para petani yang tergabung dalam Poktan Kridomulyo saat diberikan materi oleh pihak Appoli dalam sekolah lapangan pada Selasa (7/10).

Ratih Rahmawati, Koordinator Program Beras Rikolto Indonesia, menjelaskan bahwa Demplot tersebut merupakan implementasi nyata kolaborasi antara Rikolto dan Koperasi APPOLI.

“Demplot ini menjadi sarana belajar bagi para petani. Ada delapan kali pertemuan, dan setiap sesi difokuskan pada pengamatan serta penerapan prinsip-prinsip SRP,” ujarnya, Selasa (7/10).

Ratih menambahkan, dalam SRP terdapat 41 kriteria standar yang harus dipenuhi petani, mulai dari praktik budidaya, pemupukan, hingga pengecekan kesehatan lahan.

“Tujuan utamanya agar petani memahami kondisi lahannya apakah sehat atau tidaksehingga bisa melakukan pemupukan yang tepat sasaran, tepat guna, dan tepat dosis,” terangnya.

Ia juga menyebut, kegiatan tahun ini difokuskan di satu lokasi, yakni Poktan Kridomulyo di Desa Pojok.

Kepala Desa Pojok, Fitriyanto, yang turut hadir dalam kegiatan Sekolah Lapangan tersebut, memberikan apresiasi atas semangat para petani di wilayahnya.

“Selama enam kali pertemuan ini, para petani sudah banyak belajar, mulai dari sistem tanam jajar legowo hingga pengamatan tinggi tanaman, jumlah anakan, serta identifikasi hama dan penyakit,” tuturnya.

Menurutnya, metode tanam jajar legowo mampu meningkatkan populasi tanaman, memaksimalkan penyerapan sinar matahari, dan mempermudah perawatan seperti pengendalian hama dan pemupukan, sehingga berdampak pada peningkatan hasil produksi gabah.

“Kami dari Pemerintah Desa selalu mendukung kegiatan seperti ini dan berterima kasih kepada APPOLI dan Rikolto yang telah mengubah pola pikir petani dalam bertani yang lebih baik,” imbuh Fitriyanto.

Sementara itu, Ketua Poktan Kridomulyo, Senin Wahyudi, menegaskan bahwa program ini menjadi langkah penting dalam meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani.

“Melalui pendampingan ini, kami ingin petani bisa lebih mandiri, produktif, dan mampu menerapkan sistem pertanian berkelanjutan demi masa depan pangan yang lebih baik,” katanya.(D2N)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *