Nganjuk,Vibeindonesia.id – IPB University melalui Program Studi Teknologi Produksi dan Pengembangan Masyarakat Pertanian (PPP), Sekolah Vokasi, menggelar rangkaian kegiatan “Dosen Pulang Kampung” (Dospulkam) di Kelurahan Kapas, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk.
Bersama Kelompok Tani Sumber Pangan, kegiatan ini mengangkat tema “Penguatan Kelembagaan Kelompok Tani Sumber Pangan melalui Pelatihan Pembuatan Kompos dengan Metode Takakura.”
Program ini menjadi wujud nyata sinergi antara dunia akademik dan masyarakat tani, dengan pendekatan partisipatif yang mengutamakan penyelarasan gagasan, aspirasi, dan solusi aplikatif terhadap permasalahan pertanian lokal.
Diskusi Interaktif dan Pertukaran Gagasan
Rangkaian kegiatan dimulai pada 10 Juli 2025 dengan pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) di rumah salah satu petani. Acara ini dihadiri oleh penyuluh pertanian lapangan (PPL) dari Kecamatan Sukomoro, empat ketua kelompok tani, lima anggota kelompok tani, serta dosen dan mahasiswa IPB University.
Diskusi dibuka oleh Ririh Sekar Mahardisiwi, S.P., M.Si., yang menekankan pentingnya dialog antara akademisi dan petani sebagai bentuk pertukaran pengalaman.
Dosen dan mahasiswa turut memperkenalkan IPB University, Sekolah Vokasi, serta Program Studi PPP yang terlibat dalam program Dospulkam.
Ketua Prodi PPP sekaligus Koordinator Program, Muhammad Iqbal Nurulhaq, S.P., M.Si., menyampaikan harapannya agar kegiatan ini tidak berhenti pada diskusi saja.
“Kami berharap kegiatan ini menghasilkan kontribusi nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat tani di Kapas,” ujarnya.
FGD yang dipandu oleh Tri Budiarto, S.KPm., M.Si., berlangsung aktif dan penuh antusiasme. Para petani membagikan pengalaman dan tantangan dalam budidaya, mulai dari rotasi tanam hingga kendala dalam penggunaan lahan.
“Menanam padi bisa 3–4 kali tergantung kondisi tanah. Awal Juli biasanya kami mulai tanam jagung. Bahkan saat jagung belum panen, di sela-selanya kami tanam kacang panjang atau kedelai,” ungkap Muslih Agung Sulistiono, anggota kelompok tani.
H. Abdul Hadi Suprapto menambahkan, “Kalau tidak menanam padi serempak, risikonya besar karena serangan burung. Di sini kebanyakan petani menyewa lahan, jadi mereka menargetkan minimal tiga kali panen per tahun.”
Isu Lingkungan dan Minimnya Bahan Organik
Diskusi juga menyoroti rendahnya penggunaan bahan organik. Sebagian besar petani masih bergantung pada pupuk kimia seperti urea, phonska, dan ZA. Pembakaran jerami pascapanen turut memperparah penurunan kualitas tanah akibat tidak dikembalikannya unsur hara alami.
Pelatihan Kompos Takakura: Solusi Praktis Ramah Lingkungan
Sebagai tindak lanjut, pada 11 Juli 2025, dilakukan penyuluhan dan pelatihan pembuatan kompos dengan metode Takakura di rumah Ketua Kelompok Tani Sumber Pangan.
Kegiatan ini dihadiri oleh anggota kelompok tani, penyuluh pertanian, perwakilan pemerintah kelurahan, serta Koordinator Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kabupaten Nganjuk.
Kegiatan dimulai dengan edukasi kesehatan tanah. Para petani membawa sampel tanah yang dianalisis menggunakan kertas lakmus. Hasil menunjukkan pH tanah rata-rata 6,5 masih tergolong baik untuk pertanian.
Pelatihan dilanjutkan dengan praktik pembuatan kompos dari jerami menggunakan metode Takakura. Metode ini dipilih karena mudah, efisien, dan dapat diterapkan secara mandiri.
“Jerami sebaiknya tidak dibakar. Dengan metode Takakura, jerami bisa diubah menjadi pupuk yang membantu menjaga kesehatan tanah,” terang pemateri dari tim IPB University.
Koordinator BPP Kabupaten Nganjuk, Joko Nugroho, mengapresiasi kegiatan ini. “Ilmu yang ditularkan sangat bermanfaat. Kami berharap IPB juga bisa mengadakan KKN di wilayah ini, dan kegiatan ini bisa mendorong perubahan sikap petani menuju pertanian yang lebih sehat.”
Dosen Pulang Kampung: Dedikasi Membangun Daerah Asal
Muhammad Iqbal Nurulhaq menegaskan pentingnya peran dosen dalam membangun daerah asal melalui program Dospulkam.
“Program ini sangat bermanfaat, terutama bagi petani padi yang masih banyak menggunakan pupuk kimia berlebihan. Pelatihan ini bisa jadi langkah awal menuju budidaya yang lebih sehat,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, IPB University menunjukkan komitmennya sebagai agen perubahan yang hadir langsung di tengah masyarakat.
Pendekatan Dospulkam menjadi medium strategis dalam memperkuat kelembagaan kelompok tani, menumbuhkan kesadaran ekologis, serta mendorong transformasi menuju sistem pertanian yang berkelanjutan dan mandiri.(***)















